Kilas Balik Marc Marquez Seputar 2025: Epic Comeback Terbaik Dalam Sejarah MotoGP
Anda pasti tahu bahwa karir Marc Marquez hampir berakhir pada musim 2020 silam. Pada saat itu, ia masih membela Repsol Honda dan sedang berada dalam kondisi 100% fit. Peristiwa ini terjadi pada seri perdana MotoGP 2020 di Sirkuit Jerez, Spanyol.
Pada saat balapan berlangsung, Marc berusaha untuk memperbaiki posisi setelah nyaris terjatuh di tikungan 4 pada putaran keempat. Saat balapan menyisakan empat putaran, ia terjatuh cukup keras dan mengalami cedera humerus kanan yang cukup parah. Cedera ini menjadi titik hancurnya performa juara dunia sembilan kali tersebut.
Musim berikutnya, ia mampu mengoleksi tiga kemenangan meski kondisinya masih belum prima. Setelah itu, ia tidak bisa menang, bahkan podium. Badai cedera terus menghantui Marc pada musim 2022, dimana ia mengalami diplopia usai terjatuh di Mandalika pada sesi pemanasan, sebelum ia memutuskan untuk absen di Catalunya hingga Misano karena ia ingin memulihkan humerus kanan yang masih cedera.
Namun, setelah 100% fit, performa Marc di musim 2023 justru kian parah. Performa Honda yang terus memburuk di era 'Ducati Cup' itu membuat ia memutuskan untuk pindah ke Gresini Ducati meski ia masih terikat dengan Honda pada 2024.
Pada musim perdananya bersama Ducati, ia berhasil meraih tiga kemenangan meski menunggagi GP23. Motor lawas tersebut masih membuatnya semakin kuat dan mengakhiri 2024 di posisi ketiga klasemen. Performa apik tersebut membuat Ducati memutuskan untuk mempromosikan Marc ke pabrikan Ducati pada musim 2025.
Pada musim 2025, Marc menjadi kandidat terkuat juara dunia setelah bergabung dengan tim pabrikan papan atas yang masih naik daun. Berikut perjalanan panjang Marc Marquez selama musim 2025.
Awal Musim yang Naik-Turun
Pada seri perdana yang berlangsung di Buriram, Marc Marquez mengawali balapan dengan mulus. Namun, setelah tujuh putaran, ia harus memberi jalan kepada Alex ke depan. Itu merupakan strategi jitu yang dilakukan oleh pihak Ducati untuk menjaga tekanan ban sehingga Marc mendapat notifikasi itu pada dasbornya.
Marc menyusul Alex menjelang akhir putaran ke-22 di tikungan terakhir. Ia dan adiknya finis satu-dua untuk pertama kalinya musim ini. Ini merupakan kali pertama Marc juara seri perdana per musim sejak 2014. Tak hanya itu saja, ia menjadi pembalap pabrikan Ducati pertama yang menang pada balapan pertamanya sejak Casey Stoner pada 2007.
Tren persaingan yang tersaji di Buriram tersebut terulang kembali di Argentina, dengan Marc melakukan kesalahan di awal balap yang berakhir dengan kegacoran di akhir balap, dimana ia memberikan slipstream untuk menyalip Alex di tikungan 4 saat balapan menyisakan lima putaran.
Balapan Argentina dimenangi oleh Marc, diikuti oleh adiknya, Alex. Kemenangan itu sekaligus menyamai pencapaian Angel Nieto, yakni 90 kemenangan di semua kelas.
Austin seharusnya menjadi saksi kemenangan Marc berkat keberhasilannya di sirkuit yang didominasi oleh tikungan ke kiri tersebut. Namun, semangat juangnya berujung tragedi, dimana ia terjatuh di tikungan 4 saat ngacir di depan akibat menginjak kerb yang masih setengah basah usai hujan sebelum balapan. Ini merupakan kesalahan pertama Marc sepanjang musim ini.
Setelah gagal di Austin, Marc langsung membalas kesalahannya di Qatar setelah bersaing ketat dengan Franco Morbidelli (VR46) dan Maverick Vinales (Tech 3 KTM). Kemenangan ini sekaligus menjadi yang pertama sejak 2014.
Sayangnya, sejak kejayaannya itu, Marc tak bisa menang dalam tiga seri beruntun. Di Jerez, ia terjatuh saat mengejar Alex dan Fabio Quartararo untuk berebut posisi pertama. Beruntung, ia masih bisa bangkit dan finis ke-12. Kesalahan tersebut membuatnya kehilangan posisi puncak ke Alex dengan keunggulan satu poin.
Di Le Mans, ia bermain aman dan finis kedua, serta unggul cukup jauh dari Johann Zarco, sang pemenang balapan tersebut. Marc menjalani akhir pekan tersulit musim ini dengan terjatuh saat balapan pertama berlangsung. Namun, balapan dihentikan akibat tumpahan oli, sehingga menciptakan berkah bagi Marc hingga akhirnya finis ketiga setelah bersaing ketat dengan Morbidelli.
Pertengahan Musim, Marc Aktifkan Mode 2014
Sebelum GP Aragon, Ducati melakukan upgrade besar-besaran demi mengembalikan Marc ke performa terbaiknya musim ini. Keputusan ini berujung kesuksesan besar usai pria 32 tahun itu menang di sirkuit favoritnya.
Tren kemenangan tersebut berlanjut hingga pertengahan musim. Di Mugello, Marc menikmati persaingan sengit dengan adiknya dan rekan setimnya, Pecco Bagnaia. Ia meraih kemenangan perdananya di sana sejak 2014. Sementara pada seri berikutnya di Assen, Marc mendapat kawalan dari Marco Bezzecchi hingga akhir balapan demi menegaskan pembuktiannya sebagai calon juara dunia MotoGP 2025 dengan kemenangan.
Pada GP Jerman, ia membalap dengan hati-hati karena telah melihat korban berjatuhan saat balapan berlangsung. Ia melakukan 'aura farming' yang viral di media sosial sebagai selebrasi kemenangan di Sachsenring, yang sekaligus membuktikan dirinya sebagai 'King of the Ring.'
Di Brno, Marc bersaing sengit dengan Marco Bezzecchi, yang mulai menunjukkan performa terbaiknya. Ia membalap dengan sabar hingga akhirnya berhasil menyalip Bez pada pertengahan balapan. Marc ngacir sendirian hingga finis. Ia mencetak sejarah baru, sebagai pembalap Ducati pertama yang menang lima seri beruntun.
Momen bersejarah berikutnya juga tercipta di Austria. Marc akhirnya pecah telur di Austria setelah kembali bersaing dengan Bezzecchi sepanjang balapan. Pada seri berikutnya di Hongaria, Marc menambah daftar srirkuit yang berhasil dikuasainya, yakni sirkuit Balaton Park. Seperti di Brno dan Austria, Marc memenangi balapan setelah sempat bersaing dengan Bez di awal balapan.
Catatan kemenangan Marc berakhir di Catalunya setelah finis kedua di belakang Alex Marquez. Ia membayar kekalahannya di Misano dengan kemenangan usai bersaing sengit dengan tuan rumah Marco Bezzecchi. Di tengah cemoohan dari penggemar Rossi, Marc meniru selebrasi ala Messi dengan melepas baju balap dan memamerkannya kepada para suporter bahwa ia adalah pembalap dari tim asal Italia, Ducati Lenovo Team.
Comeback Terbesar yang Menjadi Awal dari Perjalanan Marc
Saat MotoGP 2025 memasuki seri Asia, tepatnya di Motegi, Marc menjalani akhir pekan dengan tenang, terutama saat balapan. Ia berada di posisi kedua hingga bendera finis berkibar. Marc telah dipastikan sebagai Juara Dunia MotoGP 2025 sejak musim 2019! Momen ini membuat saya terharu dan tak bisa berkata-kata lagi. Ini adalah salah satu epic comeback terbesar dalam sejarah MotoGP. More than a number.
Banyak pihak yang mengatakan bahwa Marc akan pensiun jika ia tidak bisa juara dunia lagi. Namun, takdir berkata lain bahwa bintang Ducati tersebut kembali ke performa puncaknya. Ia akan tetap terus membalap dengan agresif hingga 40 tahun.
Meski absen empat seri terakhir musim ini akibat cedera bahu, Marc masih tetap menjadi salah satu pembalap yang tangguh, berani, dan cerdas. Saya harap ia segera sembuh agar dapat mempersiapkan diri untuk memulai 2026 sebagai juara dunia bertahan. Kita nantikan persaingan Marc pada musim depan.
Post a Comment